Terkait Pengurugan Laut di Pelabuhan Teluk Benoa, Tokoh Ormas Datangi Pelindo III

lilikbadung, 23 Aug 2018, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

DENPASAR- Kantor Pelindo III di Pelabuhan Benoa, Kamis (23/8/2018)  didatangi beberapa Tokoh Organisasi Masyarakat diterima langsung oleh General Manager Pelindo III, I Wayan Eka Saputra di dampingi Kepala Syahbandar Mustadi.

Beberapa Tokoh  Organisasi Masyarakat Wayan Suartana ( Tokoh masyarakat Legian), Ir.Nyoman Merta Harnaga (Yayasan Craddha), Ir. Made Mandra, M.Sc ( Love Bali Forum), Ir.A.A. Putu Agung Suryawan Wiranatha, M.Sc.Ph.D (Paiketan Krama Bali) dan Ida Bagus K. Susena, S.Kom (Puskor Hindunesia).

" Pembangunan infrastruktur di Kawasan Pelabuhan harus diketahui oleh masyarakat terutama masyarakat yang terdampak dari pembangunan tersebut" tegas Agung Suryawan." AMDAL pembangunan insfrastruktur di Kawasan Pelabuhan Benoa, yang tak sebatas bukti kajian ekonomi, fisik, kimia, biologi tetapi yang tak kalah penting kajian sosial budaya dan spiritual", imbuhnya. "Tanpa persetujuan masyarakat, maka jangan salahkan jika masyarakat menolak", tegasnya. Kepala Puslit Udayana ini mencurigai pengurugan laut di Pelabuhan Benoa ada peruntukan lain diluar kebutuhan pelabuhan. Sejauh ini Agung Suryawan yang juga Tokoh Desa Adat Sesetan belum mengetahui adanya sosialisasi terkait pengurugan laut di Kawasan Pelabuhan Benoa.

Ida Bagus Susena mengungkapkan hal senada, Ketua Dekornas Puskor Hindunesia ini tak mempersoalkan jika Pelindo III membangun fasilitas terkait kepentingan dermaga. Namun jika lahan hasil.pengurukan laut di kawasan Pelabuhan Benoa disiapkan untuk pemanfaatan lain itu yang pasti di tolak oleh masyarakat. " Infrastruktur selain untuk kebutuhan pelabuhan seharusnya tidak boleh ada karena akan berdampak luas baginmasyarakat", ujar Susena. "Ia meminta kepada pihak Pelindo III agar tetap melakukan sosialisasi ke masyarakat disekitarnya agar pembangunan infrastruktur itu tak menimbulkan masalah", tegas Ketua Love Bali Forum.

" Kami pernah mendapat pesan-pesan niskala dari para sesuhunan saat bersembahyang pada 8 November 2015 di Pura Suwung Deluwang Pulau Pudut yang menyatakan beliau para sesuhunan yang "tedun" prihatin dengan rencana eksploitasi di kawasan Benoa yang diyakini memiliki 71 titik suci yang tak boleh si utak atik", ujar Nyoman Merta Harnaga. " Pesan niskala itu patut menjadi pertimbangan dalam setiap aktifitas terkait pembangunan di Kawasan Benoa", imbuhnya.

I Wayan Suartana mengatakan bahwa masyarakat terdampak di sekitar Pelabuhan Pelindo III harus diajak bicara perihal rencana pengembangan dan penataan sermaga. I Wayan Eka Saputra GM Pelindo III menyatakan sepakat dengan masukan para tokoh tersebut.

Sebagai orang Bali, ia pun percaya bahwa kajian sosial budaya dan aspek spiritual itu penting dilakukan. Pihak Pelindo III berjanji pada Senin (27/8/2018) akan menyampaikan detail kajian terkait rencana pembangunan infrastruktur di Pelabuhan Benoa kepada Paiketan Krama Bali untuk dibahas bersama pihak Pelindo III dalam waktu dekat. Eka Saputra memperlihatkan maket rencana penataan Pelabuhan Benoa termasuk site plan pembangunan fasilitas bisnis di areal hasil.pengurugan laut. Ia berdalih bahwa nantinya fasilitas bisnis itu akan mengutamakan masyarakat lokal. Sosialosasi terkait pembangunan infrastruktur menurut Eka Saputra telah dilakukan di Desa Pedungan, Serangan dan Kelurahan Tanjung Benoa. Hanya saja pihaknya belum bisa menunjukan Dokumen AMDAL terkait pembangunan tersebut selain belum ada soaialisasi di Desa Sesetan sebagai wilayah terdampak. Pihak Tokoh Ormas Krama Bali tersebut menunggu janji GM Pelindo tersebut.( adigoenawan).

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu