Larangan Duduk di Kain Simbul Pribadi Manusia Menurut Ibu Sri Pawenang

INDONESIASATU.CO.ID:

DENPASAR - Penistaan terhadap Simbul Pribadi Manusia Kerohanian Sapta Darma yang terjadi di Denpasar Bali (04/11/2017) belum mendapatkan titik terang sampai saat ini khususnya langkah nyata dari Tuntunan Agung Kerohanian Sapta Darma dan Ketua Umum Persada Pusat di Yogyakarta. Ketika ada Rakernas 3 Lembaga di Sanggar Candi Sapta Rengga- Yogyakarta justru Ketua Umum Persada Pusat Naen Soeryono.SH.MH, mengatakan waspada terhadap pihak luar yang memprovokasi atau mengeruhkan suasana.

Journalist Indonesia Satu Biro Badung- Bali mengadakan investigasi terhadap Kasus Penistaan Simbul Pribadi Manusia Sapta Darma dan menelusurinya ke para sesepuh pinisepuh Kerohanian Sapta Darma dan Tokoh Pendiri Organisasi Sapta Darma sampai ke Pulau Jawa. Mengapa sampai saat ini belum ada langkah nyata dari Ketua Umum Persada Pusat dalam menyelesaikan masalah tersebut?.

Jumat (13/04/2018) Journalist Indonesia Satu Biro Badung mengkonfirmasi salah satu Tokoh Pinisepuh Kerohanian Sapta Darma di kediamannya bilangan Kota Surabaya."Menurut Bapak  apakah di benarkan Warga/Pengurus/Tuntunan Duduk di kain Simbul Pribadi Manusia?." Ibu Sri Pawenang telah menyampaikan surat resmi mengenai hal tersebut berdasarkan pesan Panuntun Agung Sri Gutama kepada para Tuntunan dari tingkat Provinsi sampai tingkat Kecamatan,"DI LARANG mengunakan Simbul Pribadi Manusia untuk alas Sujud." tegasnya.

Pembina Agung Persatuan Warga Sapta Darma Ibu Sri Pawenang mengirim surat dan ditandatangani dengan No.surat B-08/PA/IX/1990 Perihal Pengunaan Simbul Pribadi Manusia. Bahwa Simbul Pribadi Manusia adalah salah satu ajaran Kerohanian Sapta Darma,yang diturunkan oleh Tuhan YME diterima oleh Bopo Panuntun Agung Sri Gutomo.

Simbul Pribadi Manusia yang selalu dipasang di dinding-dinding Sanggar Candi Busana/dirumah Warga,dan sekarang merupakan Simbul Organisasi Kita PERSADA sesuai UU No.8 Tahun 1980 yo PP.No.18 Tahun 1986 yo Peraturan Mendagri No.5 Tahun 1986 untuk memasang Papan nama Persatuan Warga Sapta Darma.

Simbul Pribadi manusia juga merupakan alat koreksi Pribadi Manusia,serta Wejangan Tesing Dumadi atau Wejangan Sangkan Pananing Dumadi.Dalam mengamalkan Ajaran Simbul Pribadi Manusia terutama dalam Sanggaran dari tingkat Provinsi sampai Sanggar tingkat kecamatan.

Demi ketertiban dan keseragaman para Tuntunan dan Warga Sapta Darma tidak dibenarkan oleh pesan Panuntun Agung Sri Gutomo demikian:

1.Dilarang mengunakan Simbul Pribadi Manusia untuk alas sujud,hanya Panuntun Agung Sri Gutomo dan Tuntunan Agung Kerohanian Sapta Darma Pusat Ibu Sri       Pawenang,yang dibenarkan mengunakan Simbul Pribadi Manusia sebagai alas sujud atau memberikan wejangan di muka Warga.

2.Kepada Para Tuntunan dan Warga Kerohanian Sapta Darma yang Sanggaran dan memberikan wejangan/berbicara,dibenarkan memakai/menduduki kain mori putih saja.

Maka sudah amat terang benderang isi dari Surat tersebut diatas dan jika ada yang tidak sesuai dengan ajaran Kerohanian Sapta Darma   hal tersebut supaya bisa diselesaikan supaya tidak merusak Ajaran Kerohanian Sapta Darma.Karohanian Sapta Darma mempunyai tujuan luhur yaitu hendak menghayu-hayu bahagianya buana.Antara lain membimbing manusia untuk mencapai suatu kebahagiaan hidup di dunia dan alam kelanggengan menurut Ajaran Kerohanian Sapta Darma yang termasuk dalam Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME yang banyak pengikutnya di seluruh Indonesia,bahwa hal tersebut harus dibenahi secara internal dan eksternal baik dalam lingkup Tuntunan dan kelembagaan yang ada.(LILIK)

Index Berita