Konsep Jurnalistik di Era Informasi dan Komunikasi Zaman Now

lilikbadung, 17 Aug 2019,
Share w.App T.Me

DENPASAR - Jurnalistik sebenarnya sudah lama di kenal manusia di dunia ini, karena selalu hadir di tengah- tengah kita. Seiring dengan kegiatan- kegiatan hidup manusia yang dinamis, terutama di era informasi dan komunikasi zaman now. Metode berarti penyelidikan berlangsung menurut suatu rencana tertentu. Jurnalistik merupakan cikal bakal dari sebuah ilmu, yakni ilmu komunikasi. Jurnalistik ada karena sejarah ilmu komunikasi setelah retorika dan publistik. pada mulanya kegiatan jurnalistik berkisar pada hal- hal yang bersifat informatif saja. Istilah jurnalistik erat kaitannya dengan istilah pers dan komunikasi massa.

Jurnalistik meliputi seperangkat atau suatu alat media massa. jurnalistik mempunyai fungsi sebagai pengelolaan laporan harian yang menarik khalayak, mulai dari peliputan sampai penyebarannya kepada masyarakat mengenai apa saja yang terjadi di dunia. Seiring kemajuan ilmu pengetahuan, kini dunia jurnalistiktelah berkembang pesat. Jurnalistik yang dahulunya dianggap hanya keterampilan menulis semata, berubah menjadi studi ilmiah tersendiri.

Konsep mengenai jurnalisme zaman now (masa kini) merupakan buah refleksi serius atas kejenuhan dalam pemberitaan media massa. Baik yang dimediasi oleh koran, radio, atau Televisi. Rasa "jenuh" ini muncul karena berita- berita selama ini yang terlalu mengeksploitasi hal- hal yang di takuti masyarakat. Misalnya, tindak korupsi para pejabat negara, bencana alam, sampai kasus-kasus kriminal yang tidak mengenakan dilihat, Tidak hanya itu, dalam penyampaiannya yang terlalu menekankan fakta- fakta obyektif, sehingga berita terasa kering, membuat dahi mengerut, dan tidak mengasyikan untuk disimak.

Bahkan, lebih baik membaca novel daripada berita. Namun disisi yang berbeda, kebutuhan masyarakat terhadap informasi adalah keniscayaan. Disinilah tantangan bagi gerakan jurnalisme baru ini, yakni bagaimana membuat berita terasa mengasyikan seperti membaca novel atau atau menonton film. Namun tetap mengedepankan fakta-fakta lapangan, bukan mengaburkan dengan realita fiktif. Melalui identifikasi Tom Wolf, sang pelopor jurnalisme baru menyebutkan empat point penting dalam praktik jurnalisme baru ini.

Pertama, scene by scene contruction, seperti penyajian film, cara pemberitaan disusun berdasarkan jalinan tiap adegan. Jadi audiens bisa memahami perubahan cerita tanpa harus dijelaskan secara eksplisit. Dua, dialogue, berita merupakan rekaman dialog yang di tuturkan sekomplit mungkin. Dengan dialog, audiens bisa mengetahui karakter narasumber tanpa reporter menyebutkan, apakah narasumber itu seorang pemarah, intelektual, dan sebagainya. Tiga, The third person, artinya seorang jurnalis sebisa mungkin menjadi orang yang terlibat dalam sebuah peristiwa. sekaligus mampu bercerita melalui sudut pandang berbeda yang kaya akan informasi. Ketika menempatkan diri sebagai orang ketiga, cerita akan semakin hidup karena peran jurnalis adalah saksi mata peristiwa (eyewitness).

Keempat, status detail, ini berarti seorang jurnalis harus mencatat tiap detail status narasumber, peristiwa, dan berbagai hal dalam laporan. Misalnya, mendeskripsikan lokasi, jurnalis bisa melaporkan bagaimana bentuk bangunannya, rancangan arsitekturnya maupun kondisi di sekitar lokasi. Keempat elemen ini diharapkan mampu melengkapi prinsip 5W+1H yang merupakan pedoman baku bagi para jurnalis saat meliput dan melaporkan kejadian supaya lebih berwarna. Tidak hanya mengulas seputar cara pemberitaan, ini juga menyinggung beberapa wacana yang mendekonstruksi konsep lama jurnalistik. Salah satunya adalah menjungkir balikan logika ekspertokrasi jurnalisme : informasi atau berita hanya milik jurnalis profesional, kini semua orang bisa menyebarkan informasi apa saja, kapan saja, dimana saja, dan dengan cara apa saja. Kemajuan dalam tekhnologi komunikasi, berimplikasi pada tersebarnya ruang-ruang untuk untuk berekspresi.

Termasuk diantaranya weblog, yang lebih populer dengan nama blog, seseorang bebas untuk unjuk dirinya. terserah apakah ia akan menulis tentang catatan harian, kumpulan artikel, kumpulan fhoto, dan sebagainya. Kebebasan dalam blogging ini memicu lahirnya praktek- praktek jurnalisme warga, seiring waktu berjalan. Pemuasan- pemuasan yang sifatnya pribadi bergeser pada fungsi sosial. Blog pun beralih menjadi ruang tukar menukar informasi. Kini, setiap orang bisa memposting informasi yang berguna bagi para blogger lainnya. Blogger lain membaca informasi tersebut bisa langsung memberikan respons (timbal balik), entah dengan menambah informasi atau mengklarifikasi kebenaran informasi tersebut. Informasipun menjadi milik bersama, tak lagi bersifat elitis dan menjadi milik media massa. Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala tapi satu tulisan bisa menembus jutaan kepala."Berfikirlah sebelum menulis, boleh saja nulis apapun, asal jangan fitnah, berita bohong, ujaran kebencian atau penistaan"(Brigjen.Pol.Drs.Rikwanto,SH,M.Hum).(LILIK ADI GOENAWAN)

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu